Mengapa saya menjadi seorang STAPALA Oleh: Aulia M Ilhami (765/SPA/04)

Coba tanyakan pada para mahasiswa di kampus ini (STAN) bagaimana STAPALA itu, maka kamu akan mendapatkan berbagai jawaban mulai dari yang positif sampai yang memerahkan telinga. Dan coba juga tanyakan pula pada anak-anak STAPALA untuk apa jauh-jauh, bersusah payah, mendaki gunung, memanjat tebing, menyusuri gua, atau mengarungi sungai. Maka kamu akan mendapatkan berbagai macam jawaban mulai dari yang sekenanya sampai yang filosofis.
Saat semua orang berbicara tentang keapatisan terhadap kampus, masyarakat, ataupun bangsa. Saya lebih memilih untuk memberontak terhadap tuntutan normatif, nilai etika sebagai seorang mahasiswa. Bukan tidak menghargai tugas mahasiswa sebagai agen of change melalui sarana yang biasa digunakan untuk berekspresi, tapi saya mencoba untuk mengaktualisasikan diri dan membebaskan ekspresi jiwa melalui media alam. Ekspresi jiwa yang haus akan makna kehidupan, sebagai dorongan dari gejala sosial disekitar dan dampak peradaban. Dorongan positif untuk mengasah nurani dan menumbuhkan jiwa pro aktif. Media alam dan lingkungan inilah yang saya gunakan untuk menelusuri potensi diri untuk mengendalikan lingkungan dengan mencoba memahaminya.
Alam adalah penciptaan yang besar dan megah dari Dzat yang Maha Agung yang mengendalikan semesta. Alam adalah sebuah buku penciptaan dimana pena-pena kekuasaanNya menuliskan tanda-tanda keindahan diatas lembaran-lembaran kehidupan. Berjalan di muka bumi menemukan tempat-tempat sebagai media perenungan guna menggugah kesadaran dalam dialog dengan jiwa yang jernih. Dialog yang akan memunculkan berbagai kesimpulan antara lain:
1. Pemikiran yang terarah pada Illahi, penghayatan akan ciptaan Allah yang sangat luas agar bertambah rasa syukur dan keimanan terhadapNya.[ Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “ya Rabb kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau” (Q.S. Ali Imran:191) ]
2. Tuntutan-tuntutan atas ketegasan hati sebagai wujud dari rasa cinta kebebasan, bau tantangan, kebahagiaan dari perwujudan mental, spiritual dan fisik.
3. Rasionalitas dan kebaikan yang sesuai dengan kodrat sebagai manusia yang menghasilkan jawaban bagaimana manusia harus membawa diri agar mencapai potensialitas yang tertinggi dan kehidupan yang betul-betul bermutu.
Semua mensyaratkan satu hal yaitu petualangan yang lebih dari sekedar aktivitas yang bersifat hedonistik tetapi menetapkan nilai-nilai mulia dari petualangan tersebut. Untuk itulah mengapa saya menjadi STAPALA. Kami bukanlah orang-orang eksklusif yang menempatkan diri dalam posisi teratas di kampus ini dalam hal kepedulian alam dan lingkungan sekitar. Adalah kewajiban kita sebagai manusia untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan alam. Kami juga bukan sekumpulan berandalan yang berbuat seenak perutnya. Adalah suatu kepicikan menghakimi sebuah organisasi hanya dari satu sisi. Kami hanyalah STAPALA.

*Berdasarkan tulisan “Petualang Dan Dialektika Kontemplatif (mencoba mengerti pecinta alam)” Khumaidi Tohar KMPA Eka Citra UNJ di majalah wanadri edisi no.35 dan La Tahzan DR Aidh Al Qarni.
*Berdasarkan tulisan “Petualang Dan Dialektika Kontemplatif (mencoba mengerti pecinta alam)” Khumaidi Tohar KMPA Eka Citra UNJ di majalah wanadri edisi no.35 dan La Tahzan DR Aidh Al Qarni.

2 Responses to “Mengapa saya menjadi seorang STAPALA Oleh: Aulia M Ilhami (765/SPA/04)”

  1. Iyok Says:

    hua ha ha…bagus nak
    keep goin’
    tell the world ’bout it
    they have to know it!!

  2. arwan Says:

    di posting ke milis stapala sekalian napa? jangan cuma di”embu” di blog mu doang

Leave a Reply