Archive for August, 2006

Tentang Seorang Perempuan

Wednesday, August 30th, 2006

Pertama kali bertemu atau lebih tepatnya secara tidak sengaja aku melihat dia saat manaiki anak tangga menuju lantai 2 gedung perkuliahan pada awal tahun ketiga aku belajar dikampus ini. Dia sedang menuju kebawah dan aku kelantai atas. Sungguh mengherankan baru kali ini aku melihat ada seseorang seperti dia, padahal kita satu spesialisasi (baca:jurusan) akuntansi tepatnya. Penampilannya yang “eyecatching” spontan menarik hatiku untuk menanyakan pada temenku siapa namanya. Beberapa hari kemudian saat salah seorang temenku yang sama2 bernaung dibawah suatu organisasi kepecintaalaman memperlihatkan fotonya dan temen2nya termasuk salah satunya adalah si Dia saat mengikuti salah satu kepanitiaan acara kampus, aku pun lebih lanjut menanyakan dia ke temenku itu tadi, tentunya hanya sekedar basa-basi bercanda belaka. Aku pun sudah menebak klo dia dan temenku tadi adalah temen akrab karena mereka sama-sama aktivis dakwah kampus. Temenku ini juga mengakui kekagumannya akan tingkah lakunya, padaal aku sendiri sudah cukup segan dan kagum pada temenku ini.

Mungkin sudah berkali-kali aku merasakan apa yang disebut orang-orang dengan jatuh cinta. Tapi toh aku tidak pernah pacaran sekalipun. Sering aku menyukai gadis-gadis karena wajahnya yang cantik atau tubuhnya yang seksi. Semenjak kuliah pandanganku berubah, aku mulai membenci dan sangat membenci gadis-gadis cantik yang berpakaian seksi dan berkelakuan tidak karuan. Aku mulai mengagumi perempuan2 yang oleh orang2 bahkan dari gender mereka sendiri menyebutnya dengan “akhwat”. Yaitu perempuan2 yang berpakaian syar’i dan kebanyakan aktif dalam dakwah karena sikap dan perilaku mereka bukan semata karena kecantikan. Lama-kelamaan aku mulai mengerti tidak semua dari mereka seperti yang aku pikirkan selama ini, ternyata mereka juga punya kehidupan layaknya gadis2 remaja seusia mereka. Hal ini aku sadari saat aku sering mengamati atau lebih tepatnya membandingkan mereka dengan sesorang yang aku menyebutnya “mbaknya” yang aku ceritakan diawal.

Dengan tidak bermaksud merendahkan yang lain aku memandang “mbaknya” selangkah lebih maju diantara temen2nya. Entah aku buta atau kurang pergaulan selama ini tidak pernah mengetahui seseorang seperti “mbaknya” satu angkatan denganku padahal populasi cewe dikampus ini kurang dari 10% apalagi yang aktivis. “mbaknya” memiliki keduanya baik beauty maupun attitude yang mengagumkan. “mbaknya” memang cantik bahkan temenku yang berandalan pun mengakuinya. Kulitnya putih dan memang kebanyakan orang2 dari kota asalnya berkulit bersih namun sekali lagi sikapnya tidak mencerminkan sikap orang2 asal kotanya yang kebanyakan adalah “anak gaul”. Indah Lakunya itu yang membuat lututku seakan tak kuasa menahan beban tubuh ini.

Dan aku jadi lebih sering mengamatinya, karena memang ada kesempatan untuk itu saat jam kuliah, walaupun kita tidak satu kelas. Setiap kali aku mencuri pandang perasaan yang sama selalu terjadi, ketika hati berdebar, seperti akan jatuh dan hal itu membuatku semakin merasa berdosa. Aku jadi menyesal telah mengaguminya, menyesal dengan hari-hari itu! Kamu tahu perasaanku padanya? seperti aku menjadi 2 orang sekaligus! yang satu menginginkan dia sebagai pendamping hidup. Sedangkan yang satunya tidak rela dia dimiliki oleh orang macam aku! (seperti aku tidak rela siti nurhaliza menikah dengan duda beranak 4 itu…hehe..) Ya dan disinilah aku sekarang, terjebak dalam dua bagian yang saling bertolak-belakang. Tapi aku lebih cenderung mengikuti yang kedua. Karena aku tahu yang terbaik adalah untuk yang terbaik, bukankah itu janji Allah. Dan janji Allah adalah benar.

Beberapa hari lagi mungkin adalah untuk terakhir kalinya aku bisa memandangnya dan aku akan sangat bersyukur hal ini akan berakhir. Untuk itu aku menuliskan ini, agarkelak aku bisa tertawa lagi mengingat apa yang telah kuperbuat dulu. Aku pun masih berusaha menjadi lebih baik dari sekarang dan aku juga yakin akan kutemukan sendiri teman sejatiku. Semoga kecantikanmu bertambah di sorga kelak, amin………..

Tasikmalaya, 29 agustus 2006
22:13
ketika asa menjadi dosa

Rinduku Bidadari Kecilku…..

Tuesday, August 29th, 2006

Sudah setahun yang lalu, ketika aku turun dari semeru
Sudah setahun yang lalu, ketika jemari kecilmu memainkan lonceng di tas ranselku
Saat itu aku akan selalu tersenyum melihat dua gigi mungilmu saat tertawa
Saat itu aku tak pernah kesal menuntunmu kemanapun kamu mau pergi

Sudah terlalu lama bagiku……
Dan sudah terlalu bosan aku mengumpulkan serpihan rindu

Aku janji akan membelikanmu baju dan jilbab lucu saat aku pulang nanti
Tapi kamu juga harus janj, tak akan lari ataupun meronta saat aku gendong
Aku janji akan mengajakmu bermain di kali dirumah eyangmu, melihat ikan-ikan
Tapi kamu juga harus janji mencium pipiku, kiri dan kanan

Aku ingin kamu panggil “om”
Tapi panggil saja aku “paklik”
Seperti yang ibumu ajarkan padamu

Tidak sabar lagi…
Mungkin tiga minggu lagi…

(Didalam Bis Jkt-Tskmly 28 Agustus 2006)

Tentang Yudisium kemaren

Tuesday, August 29th, 2006

Sabtu 26 Agustus 2006, kembali lagi ke Jakarta mo yudisium ni (Yudisium: aspek legal kelulusan seorang mahasiswa dalam kasus ini untuk mahasiswa stan agar dinyatakan lulus)tanggal 28 nanti. Nyebelin banget harus bolak-balik tasik-jakarta yah namanya juga kuli…Demi masa depan euyh…Berangkat jam sebelas siang naik bis primajasa tercinta, nyampe kosan jam stengah 6 sore.capek banget, eh teringat janji ma nisa740 buat traktir makan ngerayain lulus kompre and uda gajian pula…Ya udah langsung cabut mampir ke posko(stapala) bentar trus berangkat ke kosan nisa740 dlm perjalanan ngeliat dr jauh kyknya ad temenq CASP,SKM,ma temenya satu lagi ga tau.Nyampe dikosan 740 eh dia malah lupa ada janji, terpaksa nungguin dia dandan dulu…malem minggu jalan ma cewe uuppsss sebelum berpikiran lebih jauh lagi mending aku jelasin nisa is not my girlfriend!!! i never ever had a girl!!! dia cm temen malah kyk kakak adik…Ya uda berangkat ke satu-satunya mall buat anak2 stan nongkrong “BINTARO PLASA”.Nyari baju dulu buat yudisium ma wisuda sekalian (harus baru donk, kan uda ada duit sendiri) plus dasi item.Tapi ga ada yg cocok. Trus Maen k Gramed aku sendiri beli buku biografinya Pramoedya Ananta Toer, sebenarnya pengen beli tetraloginya. Yang uda terbit sih Bumi Manusia,ama Anak Semua Bangsa. Harganya masing2 80rb!!! qpikir ntar dulu ah, masih butuh kitab2 lain. Eh Ketemu Indira661. Beliau inilah yang ngasih kerjaan ke aq. Mas in nagih makan2 lagi…aq diem aja…eh malah dia yang ngajak makan. Ya udah cabuuuttt!!! Makan di Warung Tenda Bintaro rame banget malem minggu…ngeliat rombongan anak2 Bea Cukai kayaknya ngerayain lulusnya kompre,en rombongan akhwat-akhwat yang aq ngenalin salah satunya sebagai tetangga kosq. Kenyang!! dibayarin mas indira, jadi malu aq. masih utang janji donk ma nisa. pulang jalan kaki beli martabak dulu buat temen2 kosan nisa. Mampir posko ngasihin martabak buat anak2 yang baru slesei rafting kyknya..pade berebutan sesuai attitude makan stap’s.
Minggu ga ada kegiatan spesial, paling cuma di posko. Ketemu (lutfi suroya)Upik738 sang ibu2 hehehe…kyknya dia lagi nyebarin undangan walimahannya. Kok aq ga dikasih???huh…sebel..!!
Senin 28 Agustus akhirnya momen itu tiba YUDISIUM wah peristiwa sakral yang akan menentukan apakah aq jd AMD atau…ga penting deh…dandab rapi baju baru, dasi baru, terpaksa nyemir sepatu…Pinjem Kamera dulu ke Dik Sannie alias si komo anggota muda stapala.Kumpul dulu ditaman CD, trus ke gedung G. Acaranya??? walah ternyata cuma ndengerin pak kusmanadji nyrocos ga jelas…dan sesekali aplaus buat nyang pinter2. Untung aq ga disebut….seandainya disebut mungkin gini nih ucapannya peringkat XXX dengan predikat “belas kasihan” saudara Aulia….duar..der..dor..aq lempar hape tu kusmanadji mo ganti hape ini…oiya momen yudisium ini yang menyengkan bagiku adalah aq bisa memandang si “mbaknya” gitu aku dan nisa menyebutnya. Mengaguminya dari jauh, membuatku merasa berdosa. Gak seperti biasanya bawa tas warna ijo itu, tp bawa backpacknya yang warna merah-item. Sungguh aku dalam beberapa hari lagi mungkin terakhir kalinya aku bisa mencuri pandang kepadanya dan membebaskanku dari rasa bersalah dan menyesal telah mengaguminya. Begitu banyak puisi yang aku buat untuk menyatakan kekagumanku, tapi ya hanya itu…aku gak bakal jadi katak yang merindukan hujan!!! kamu bak malaikat, aku makhluk kotor!!!uda cukup. untuk cerita “mbaknya” ada tulisan lain lagi. Selesei yudisium cabut lagi ke tasik. Saat mo berangkat masih sempet lagi ngeliat “mbaknya” sekali lagi (duhhh….) kirain udah pulang dia. Naik bis bareng indra yg mo balik k bandung. Teringat kangen ma ponakan nulis puisi buat dia….Kerja Lagi deh
Aulia Would like to thanks to Allah SWT atas nikmatnya, Bapak Ibu tercinta Bapak Suyono Salamun, semua dosen, pak mulyadi dosen pembimbing,anak2 kosan sarmili 18,all stap’s esp 740 “keranjang sampah untuk cerita2ku”. BPK im comingggg…..!!!!!!!

Mengapa saya menjadi seorang STAPALA Oleh: Aulia M Ilhami (765/SPA/04)

Monday, August 28th, 2006

Coba tanyakan pada para mahasiswa di kampus ini (STAN) bagaimana STAPALA itu, maka kamu akan mendapatkan berbagai jawaban mulai dari yang positif sampai yang memerahkan telinga. Dan coba juga tanyakan pula pada anak-anak STAPALA untuk apa jauh-jauh, bersusah payah, mendaki gunung, memanjat tebing, menyusuri gua, atau mengarungi sungai. Maka kamu akan mendapatkan berbagai macam jawaban mulai dari yang sekenanya sampai yang filosofis.
Saat semua orang berbicara tentang keapatisan terhadap kampus, masyarakat, ataupun bangsa. Saya lebih memilih untuk memberontak terhadap tuntutan normatif, nilai etika sebagai seorang mahasiswa. Bukan tidak menghargai tugas mahasiswa sebagai agen of change melalui sarana yang biasa digunakan untuk berekspresi, tapi saya mencoba untuk mengaktualisasikan diri dan membebaskan ekspresi jiwa melalui media alam. Ekspresi jiwa yang haus akan makna kehidupan, sebagai dorongan dari gejala sosial disekitar dan dampak peradaban. Dorongan positif untuk mengasah nurani dan menumbuhkan jiwa pro aktif. Media alam dan lingkungan inilah yang saya gunakan untuk menelusuri potensi diri untuk mengendalikan lingkungan dengan mencoba memahaminya.
Alam adalah penciptaan yang besar dan megah dari Dzat yang Maha Agung yang mengendalikan semesta. Alam adalah sebuah buku penciptaan dimana pena-pena kekuasaanNya menuliskan tanda-tanda keindahan diatas lembaran-lembaran kehidupan. Berjalan di muka bumi menemukan tempat-tempat sebagai media perenungan guna menggugah kesadaran dalam dialog dengan jiwa yang jernih. Dialog yang akan memunculkan berbagai kesimpulan antara lain:
1. Pemikiran yang terarah pada Illahi, penghayatan akan ciptaan Allah yang sangat luas agar bertambah rasa syukur dan keimanan terhadapNya.[ Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “ya Rabb kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau” (Q.S. Ali Imran:191) ]
2. Tuntutan-tuntutan atas ketegasan hati sebagai wujud dari rasa cinta kebebasan, bau tantangan, kebahagiaan dari perwujudan mental, spiritual dan fisik.
3. Rasionalitas dan kebaikan yang sesuai dengan kodrat sebagai manusia yang menghasilkan jawaban bagaimana manusia harus membawa diri agar mencapai potensialitas yang tertinggi dan kehidupan yang betul-betul bermutu.
Semua mensyaratkan satu hal yaitu petualangan yang lebih dari sekedar aktivitas yang bersifat hedonistik tetapi menetapkan nilai-nilai mulia dari petualangan tersebut. Untuk itulah mengapa saya menjadi STAPALA. Kami bukanlah orang-orang eksklusif yang menempatkan diri dalam posisi teratas di kampus ini dalam hal kepedulian alam dan lingkungan sekitar. Adalah kewajiban kita sebagai manusia untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan alam. Kami juga bukan sekumpulan berandalan yang berbuat seenak perutnya. Adalah suatu kepicikan menghakimi sebuah organisasi hanya dari satu sisi. Kami hanyalah STAPALA.

*Berdasarkan tulisan “Petualang Dan Dialektika Kontemplatif (mencoba mengerti pecinta alam)” Khumaidi Tohar KMPA Eka Citra UNJ di majalah wanadri edisi no.35 dan La Tahzan DR Aidh Al Qarni.
*Berdasarkan tulisan “Petualang Dan Dialektika Kontemplatif (mencoba mengerti pecinta alam)” Khumaidi Tohar KMPA Eka Citra UNJ di majalah wanadri edisi no.35 dan La Tahzan DR Aidh Al Qarni.

Menapaki Atap Sumatera (Sebuah catatan perjalanan kaspo 765/SPA/04)

Monday, August 28th, 2006

Kisah ini terjadi saat kami 720 didit,756 bonju, 765 kaspo, 768 uhe, 780 zaed, dan adang mengadakan perjalanan ke 4 gunung di sumatera pada tanggal 11-25 Agustus 2005. Setelah dari gunung Dempo 3159 mdpl di kabupaten pagar alam sumatera selatan kami berangkat ke kabupaten sungai penuh Jambi melalui jalur pagar alam-lahat-bangko-sungai penuh.

Selasa 16/08/05
16.00 kami sampai di sungai penuh tanpa seorang pun kenalan, hanya satu rekomendasi dari seorang teman yang kami jumpai di gunung dempo untuk menghubungi salah satu temannya yang bernama robby, singkat kata kami pun menuju alamat yang diberikan dan berkenalan dengan robby. Kami menitipkan beberapa barang kami disana. Adalah suatu kebetulan ketika kami sampai beberapa teman disana juga akan berangkat ke kerinci, kami pun ditawari untuk berangkat bersama.
17.15 kami berangkat naik mobil sewaan. Sepanjang jalan kami melihat hamparan hijau kebun teh PTPN VI yang merupakan kebun teh terbesar se-Asia Tenggara.
18.30 sampai di tugu macan (1500 mdpl) di desa kersik tuo langsung menuju menuju pos jaga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan ngecamp disana. Di pos jaga ini banyak terdapat teman-teman sesama pecinta alam, kami melewati malam dengan saling berbagi cerita dan mendapat penjelasan untuk mendaki kerinci berhubung kami berlima baru pertama kali kesini.

Rabu 17/08/05
Setelah melakukan persiapan kami pun mulai berjalan menuju pintu rimba 1682 mdpl dengan diantar 3 orang teman.
10.30 mulai memasuki pintu rimba dari sinilah perjalanan sesungguhnya dimulai…..mudah-mudahan kami bisa melalui dan kembali dengan selamat.
11.05 sampai di pesangrahan 1 bangunan seluas 3×5 m tanpa dinding dengan atap seng. Sampai sini jalur masih lumayan landai. Selepas itu jalur mulai menanjak masih dengan pohon-pohon besar dikanan kiri.
12.15 sampai di pos bangku panjang (1782 mdpl), berupa bangunan dengan luas 4×4, dikelilingi banku beton, beratap seng. Sepanjang perjalanan kami berjumpa banyak pendaki yang turun setelah merayakan HUT kemerdekaan RI di puncak. Kata nereka ada sekitar 500an pendaki pada hari itu. Dari pos ini hujan mulai turun, terpaksa kami berjalan dengan menggunakan ponco dan sedikit terhambat akibat licinnya jalur.
13.30 tiba di shelter 1 (2512 mdpl) hujan mulai reda. Kami beristirahat sambil ngobrol-ngobrol dengan pendaki yang turun.
14.10 mulai berjalan lagi dengan jalur yang tambah berat disertai dengan hujan yang mulai turun lagi tapi kami masih sangat bersemangat.
16.40 sampai di shelter 2 (3072 mdpl) masih ditemani hujan yang mengguyur. Kami bertemu pendaki yang mendirikan tenda tertahan untuk turun karena hujan. Suhu pada ketinggian sudah dingin ditambah hujan membuat tangan kami seperti membeku mati rasa, jari-jari susah digerakkan. Jalur semakin tambah berat, kami lalui denagn teknik mendaki dan memanjat menggunakan bantuan tangan. Jalur gabungan antara tanah dan batuan cadas dengan vegetasi tumbuh-tumbuhan kecil. Bebarapa kali kami sempat terjatuh, walaupun kecepatan berjalan semakin pelan tapi kami harus tetap bergerak untuk menjaga suhu tubuh agar tidak terserang hypothermia.
17.50 Alhamdulillah kami sampai di shelter 3 (3320 mdpl) senang rasanya akhirnya kami bisa beristirahat. Kami segera mendirikan tenda disamping tenda pendaki yang juga akan menuju puncak. Setelah memasak dan makan kami tidur dalam kehangatan tenda menjaga stamina buat besok. Hati terasa gembira karena puncak sudah terlihat.

Kamis 18/08/05
04.00 bangun, sholat, masak, sarapan, packing bawa bekal secukupnya peralatan (kompas, GPS, ponco, kamera) siap menuju puncak.
05.30 mulai berjalan, jalur kurang jelas, kata teman-teman dibawah ikuti saja cat kuning di batu-batuan. Shelter 3 merupakan batas vegetasi, jalur terdiri dari batu cadas, kerikil,dan pasir vulkanis tampak masih basah sisa hujan. Udara terasa dingin menusuk tulang dan tipis untuk bernapas. Beberapa menit berjalan terlihat spanduk peringatan bagi para pendaki agar berhati-hati terhadap asap beracun kawah. Perlahan hujan turun disertai kabut yang menyapa, membuat kami harus semakin berhati-hati dalam berjalan. Kami berjalan berurutan karena berjalan di punggungan sempit dengan kanan kiri jurang yang menganga.
06.30 tiba di tugu yudha (3685 mdpl) disini terdapat banyak monumen untuk mengenang teman-teman yang telah meninggal di gunung kerinci. Sejenak kami memberi penghormatan dan berdo’a semoga arwahnya diterima disisiNya. Setelah berjalan lagi beberapa langkah kabut semakin menebal, hati semakin cemas, saya yang berjalan paling belakang berteriak kepada teman-teman didepan untuk berhenti sejenak. Kami pun saling memanggil untuk mengecek bahwa kami berjalan pada jalur yang benar. Tapi kabut tambah tebal menyisakan jarak pandang 10-15 meter. Saya semakin cemas teringat cerita teman-teman dibawah saat 2 bulan lalu 3 orang MAPALA jakarta meninggal dunia akibat terjatuh ke jurang saat kabut dan badai melanda. Akhirnya saya berteriak kepada teman-teman agar menghentikan pendakian, tetapi mereka tetap ngotot untuk terus naik. Terpaksa saya harus berusaha keras membidik dengan kompas tititk-titik yang kami lalui yang masih bisa terlihat agar memudahkan kami untuk turun. Walaupun perlahan kami tetap berjalan dan berdo’a agar tetap dalam lindunganNya.
07.35 Zaed 780 yang paling depan berteriak “puncak!!!” kami pun semakin bersemangat diikuti didit 720,uhe 768, adang, bonju 756,dan saya kami berlima sampai di puncak 93805 mdpl). Alhamdulillah ya Allah, Engkau izinkan kami menapaki karya agungMu. Terdengar deru kawah kerinci gunung berapi tertinggi di Indonesia. Tiba-tiba kabut hilang seketika, Subahanallah Engkau tunjukkan tanda-tanda kekuasaanMu. Hati ini serasa ingin menangis diperlihatkan hamparan hijau tanah sumatera dibawah sana. Begitu kecil kami di alamMu yang luas ini, betapa indah ciptaanMu. Mengapa kami masih menyiman rasa sombong dihati, sedangkan dihadapanMu kami tidak lebih dari setitik noda tak berarti. Betapa kami tidak pernah bersyukur akan karuniaMu yang maha luas. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, pohon-pohon yang rindang, langit biru menaungi, segalanya…….. kami telah melihat goresan pena kekuasaan yangEngkau goreskan dengan indah di bumi ini, semoga bertambahlah keimanan ini. Kurang dari 10 menit kami mengambil momen dengan berfoto bersama. Tak lupa kami memberi ucapan selamat kepada satu temen kami yang ternyata pada hari itu berulang tahun (adang)
07.45 kami beranjak turun menyusurui jalan yang kami lalui dengan melihat sisa jejek yang kami tinggalkan. Kabut mulai turun lagi, untuk berjalan memang lebih ringan tetapi resiko salah jalur berlipat, karena apabila salah mengambil punggungan bisa terperosokke jurang. Saat kabut menebal disertai hujan turun kami memutuskan untuk berhenti beristirahat menunggu reda. Kami berpapasan dengan teman kami di shelter 3 yang mulai mendaki ke puncak. Kami mengingatkan agar berhati-hati dan segera turun sebelum jam 9. kami berjalan lagi saat kabut menipis perlahan tapi pasti.
09.30 akhirnya tiba di camp kami shelter 3. lega rasanya setelah perjalanan yang menegangkan menuju puncak. Setelah makan kami tidur berhubung hujan masih turun.
12.00 tenda kami bongkar, packing bersiap untuk turun masih ditemani hujan yang mengguyur membuat kami mengigil kedinginan ditambah stamina yang sudah mulai turun. Tapi kami menunggu dulu siapa tahu hujan akan reda.
14.00 hujan belum juga reda akhirnya diputuskan untuk ngecamp lagi. Tenda pun kami pasang kembali.
16.00 karena fisik yang sudah kecapekan dan udara dingin yang semakin menusuk tulang akibat hujan sepanjang hari kami akhirnya tidur dan menghabiskan waktu dalam kehangatan tenda.

Jum’at 19/08/05
05.30 akhirnya malam yang dingin telah terlewati, tampak sunrise yang begitu indah di ufuk timur. Pemandangan dari shelter 3 ini juga sangat indah, terlihat danau gunung tujuh di sebelah timur.
08.40 setelah sarapan dan packing kami pun siap untuk turun. Bertemu dengan 2 kelompok pendaki dari swiss dan jerman. Jalan yang kami lalui licin dan rusak akibat hujan.
13.30 sampai di pos jaga TNKS mau lapor tapi tidaj ada seorangpun akhirnya bertemu petugas ditugu macan
15.30 meninggalkan kayu aro menuju tempat robby di sungai penuh
17.00 sampai di tempat robby. Bersih-bersih diri dan makan.
20.00 berpamitan dengan teman-teman di sungai penuh untuk menuju bukittinggi smatera barat melanjutkan perjalanan kami. Saat di jalan terlihat gunung kerinci menjulang dengan gagahnya, dalam hati bersyukur dapat merasakan pengalaman mendaki disana. Terimakasih Tuhan, kerinci semoga kelak kita berjumpa lagi…………

Ahamdulillah lulus….!!!

Thursday, August 24th, 2006

walaupun ga ada hubungannya ma petualnganku di gunung……tapi sekedar ingin berbagi kebahagiaan…..
Rabu 23 agus 06 tit..tit.tit sms masuk…pesan dari nisa740 alhamdulillah kamu lulus….. wah senengnya…. semalem bingung ga karuan jangan2 aku harus kembali ke Jakarta bwt ngulang Ujian…..ups…..oiya saati itu aku lagi di Tasikmalaya Magang…..
Kebahagiaanku lengkap tambah dengan turunnya honor….wahhhh…lumayan buat bayar wisuda dan modal nikah..hahahaha…..Thank’s to : Allah SWT ternyata Engkau masih mendengar do’a hambaMu yang Hina ini……………….. Kedua orang tua tercinta….maaf ananda masih sering menyusahkan dan kurang berbakti……..semua teman2 yg kenal denganku……..kalian adalah sahabat terbaikku…….Gunung2 yg telah memberiku perasaan damai…….

Sebuah Permulaan……..

Thursday, August 10th, 2006

Disini saya akan mencoba menuliskan Semua kisah Hidup saya agar kalian mengerti bagaimana sya sebenarnya…termasuk kisah2 dan pengalaman2 saya selama berpetualang di Alam Bebas…………….Terutama Kisah2 saya dalam mendaki Gunung di Indonesia ……Semoga Bermanfaat terutama untuk diri penulis sendiri……